Gaung Media Nasional Bisakah Pariwisata Indonesia Melambung di 2022

Bisakah Pariwisata Indonesia Melambung di 2022


Industri pariwisata adalah salah satu industri yang paling terpukul dalam badai COVID-19 karena pembatasan membuat sulit (kadang-kadang bahkan tidak mungkin) untuk bepergian sementara berbagai tujuan wisata harus ditutup sementara. Selain itu, kami berasumsi bahwa dampak psikologis dari krisis terhadap masyarakat lebih besar dari yang diperkirakan.

Data dari Bali, destinasi wisata terpopuler di Indonesia, justru mengkhawatirkan. Pada bulan Oktober 2021 Bali membuka kembali perbatasannya untuk wisatawan internasional (walaupun di bawah peraturan yang sangat ketat, termasuk larangan kedatangan wisatawan dari berbagai negara) tetapi, bermasalah, orang asing belum kembali ke Bali.

Sebelum pandemi COVID-19, lebih dari enam juta pengunjung asing berkunjung ke Bali setiap tahun pada 2019, total 6,2 juta orang asing masuk ke Bali melalui Bandara Internasional Ngurah Rai. Jumlah ini tidak termasuk pengunjung asing yang datang melalui laut sebagai serta mereka yang masuk ke Indonesia di lokasi yang berbeda dan kemudian pergi ke Bali melalui penerbangan domestik. Sejauh ini pada tahun 2021, hanya 43 kedatangan pengunjung asing yang dihitung di Bandara Ngurah Rai Bali (dan delapan lagi melalui pelabuhan Tanjung Benoa Bali). Hal ini berdampak besar pada tingkat hunian hotel di Bali. Total kamar hotel di pulau ini berjumlah sekitar 150.000 unit. Namun, kurang dari enam persen dari total yang ditempati. Itu sangat merugikan operator.

Khusus untuk pulau seperti Bali, yang sekitar 65 persennya bergantung pada pariwisata (langsung dan tidak langsung), keruntuhan total industri pariwisata merupakan masalah besar dan belum pernah terjadi sebelumnya. Namun Indonesia secara keseluruhan juga pasti merasakan dampak turunnya kunjungan wisatawan asing karena membawa mata uang asing ke dalam negeri. Secara penuh tahun 2020 perolehan devisa sektor pariwisata hanya mencapai USD $3,54 miliar, turun tajam dari USD $16,9 miliar pada tahun sebelumnya.

Terlebih lagi, tahun 2021 pasti akan menjadi tahun yang lebih buruk lagi. Beberapa bulan yang lalu ketika Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merevisi target penerimaan devisa untuk tahun 2021 penuh, target tersebut dipotong dari sekitar USD 6,0 miliar menjadi sekitar USD $ 360 juta. Sementara itu, target tahun 2022 dipangkas dari sekitar US$ 11,0 miliar menjadi sekitar US$ 1 miliar. Revisi target ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia sangat pesimistis dalam menarik kedatangan wisatawan asing pada 2022, meskipun negara ini hampir bebas COVID-19 selama beberapa bulan terakhir. (FIR)